Authority System dalam Human Design: Cara Mengambil Keputusan dengan Lebih Sadar
Desember 24, 2025 2025-12-24 22:55Authority System dalam Human Design: Cara Mengambil Keputusan dengan Lebih Sadar
Authority System dalam Human Design: Cara Mengambil Keputusan dengan Lebih Sadar
Kenapa Kita Sering Salah Ambil Keputusan?
Pernah nggak kamu merasa sudah berpikir panjang, minta pendapat banyak orang, tapi ujung-ujungnya keputusan yang diambil tetap terasa “salah”? Atau justru keputusan impulsif yang kelihatannya sederhana malah berdampak besar ke hidupmu?
Di sinilah human design authority menjadi relevan. Bukan sebagai sistem yang “menentukan hidupmu”, tapi sebagai alat kesadaran untuk memahami bagaimana tubuh dan sistem sarafmu sebenarnya dirancang untuk mengambil keputusan. Kami tidak mengajak kamu untuk percaya secara membabi buta. Justru sebaliknya—kami mengajak kamu untuk lebih sadar, lebih pelan, dan lebih jujur pada sinyal internalmu sendiri.
Apa Itu Authority dalam Human Design?
Authority dalam Human Design adalah mekanisme pengambilan keputusan internal—bukan berdasarkan pikiran, opini orang lain, atau tekanan sosial, melainkan berdasarkan respon alami tubuh dan sistem emosionalmu.
Human Design berangkat dari satu asumsi penting (yang perlu kita uji secara kritis):
“Pikiran bukan alat terbaik untuk mengambil keputusan besar dalam hidup.”
Authority menunjukkan di mana kamu seharusnya mendengarkan sinyal keputusan: emosi, respons tubuh, intuisi instan, ego, atau refleksi lingkungan.
Jenis-Jenis Human Design Authority dan Cara Kerjanya
1. Emotional Authority
Ini authority yang paling umum. Cara kerjanya bukan instan.
Cara kerja:
Keputusan terbaik muncul setelah gelombang emosi naik dan turun. Tidak ada kebenaran di puncak emosi—baik itu euforia atau kesedihan.
Contoh nyata:
- Kamu ditawari pekerjaan dengan gaji besar. Hari ini terasa “wow”. Besok terasa ragu. Lusa terasa netral.
→ Keputusan sehat muncul setelah emosi stabil, bukan saat sedang tinggi atau rendah.
Kesadaran penting:
Jika kamu Emotional Authority, keputusan cepat justru berisiko.
2. Sacral Authority
Authority ini berbasis respon tubuh saat ini, bukan analisis panjang.
Cara kerja:
Tubuh merespons dengan sinyal sederhana: uh-huh (ya) atau uh-uh (tidak).
Contoh nyata:
- Ditanya: “Kamu mau lanjut proyek ini?”
Tubuhmu langsung terasa energik atau justru berat.
Kesadaran penting:
Sacral bukan soal logis atau rasional. Ia soal energi hidup.
3. Splenic Authority
Ini sering disalah artikan sebagai intuisi biasa.
Cara kerja:
Sinyalnya cepat, halus, dan hanya muncul sekali—biasanya sebagai rasa aman atau tidak aman.
Contoh nyata:
- Baru bertemu seseorang, tiba-tiba muncul rasa “nggak nyaman” tanpa alasan jelas.
Splenic berbicara sekarang atau tidak sama sekali.
Kesadaran penting:
Kalau kamu mencoba mengulang atau memikirkannya, sinyalnya sudah lewat.
4. Ego / Heart Authority
Lebih jarang, tapi sangat kuat.
Cara kerja:
Keputusan benar muncul dari keinginan dan komitmen pribadi, bukan pengorbanan.
Contoh nyata:
- Kamu berkata, “Aku memang mau ini. Titik.”
Bukan karena rasional, tapi karena ada dorongan kemauan yang jelas.
Kesadaran penting:
Authority ini butuh kejujuran radikal—bukan menyenangkan orang lain.
5. Self-Projected Authority
Berbasis identitas dan arah hidup.
Cara kerja:
Kebenaran muncul saat kamu berbicara dan mendengar dirimu sendiri.
Contoh nyata:
- Saat menceritakan pilihan hidup ke orang lain, kamu tiba-tiba sadar, “Oh, ini yang benar buatku.”
Kesadaran penting:
Bukan pendapat orang lain yang penting, tapi suaramu sendiri saat keluar.
6. Mental / Environmental Authority
Bukan keputusan internal langsung.
Cara kerja:
Kejelasan muncul lewat lingkungan yang tepat dan dialog yang sehat.
Contoh nyata:
- Kamu butuh ruang, waktu, dan orang netral untuk berbicara sebelum keputusan terasa jelas.
Kesadaran penting:
Bukan logika murni—tapi konteks yang mendukung kejernihan.
Authority Mana yang Paling Akurat?
Pertanyaan ini sering muncul, dan di sini kami perlu meluruskan asumsi dasarnya.
- Tidak ada authority yang “paling akurat” secara universal.
- Yang ada adalah: authority yang paling selaras dengan desainmu sendiri.
Mencari authority “terbaik” justru mengulang pola lama: membandingkan diri dengan orang lain.
Apakah Authority Sama dengan Intuisi?
Tidak selalu.
- Splenic memang mirip intuisi instan
- Emotional bukan intuisi cepat
- Sacral adalah respons energi
- Mental authority bukan intuisi sama sekali
Authority adalah mekanisme spesifik, bukan konsep umum seperti “feeling”.
Bagaimana Cara Mendengar Authority Sendiri?
Ini bagian paling praktis—dan sering disalahpahami.
- Kurangi kecepatan
Banyak keputusan salah bukan karena kurang informasi, tapi karena terlalu cepat. - Perhatikan tubuh, bukan cerita di kepala
Apa sensasi yang muncul? Lega, berat, tenang, atau gelisah? - Uji di keputusan kecil dulu
Mulai dari hal sederhana: memilih jadwal, ajakan, atau komitmen ringan. - Berani menunggu (jika perlu)
Terutama untuk Emotional Authority—menunggu bukan kelemahan, tapi kebijaksanaan.
Decision-Making Awareness: Intinya Bukan Benar atau Salah
Human Design authority tidak menjanjikan hidup bebas masalah. Yang ia tawarkan adalah kesadaran saat memilih.
Kami tidak mengatakan sistem ini mutlak benar. Bahkan dari perspektif psikologi modern, banyak elemen Human Design bisa dibaca sebagai:
- Regulasi emosi
- Interoceptive awareness (kesadaran tubuh)
- Somatic decision-making
Dan itu justru membuatnya relevan.
Penelitian dalam neuroscience menunjukkan bahwa pengambilan keputusan tidak pernah sepenuhnya rasional, melainkan sangat dipengaruhi oleh sistem tubuh dan emosi (Damasio, 1994).
Keputusan yang Lebih Sadar, Bukan Lebih Sempurna
Human design authority bukan alat untuk menghindari kesalahan. Ia adalah alat untuk berhenti mengkhianati diri sendiri saat mengambil keputusan.
Kalau kamu mulai:
- Mendengar sinyal tubuh
- Menghormati ritme emosimu
- Mengurangi ketergantungan pada validasi luar
Maka keputusanmu mungkin tidak selalu mudah—tapi akan terasa lebih jujur dan membumi.
Kalau kamu ingin mengenal authority-mu lebih dalam dan mempraktekkannya secara mindful (bukan dogmatis), kami di MyndfulAct membuka ruang eksplorasi yang aman—tanpa menggurui, tanpa menghakimi.
Karena pada akhirnya, keputusan terbaik adalah keputusan yang kamu ambil dengan sadar.
Referensi
- Damasio, A. R. (1994). Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human Brain. Putnam.
- Bechara, A., & Damasio, A. R. (2005). The somatic marker hypothesis: A neural theory of economic decision. Games and Economic Behavior, 52(2), 336–372. https://doi.org/10.1016/j.geb.2004.06.010
- Farb, N. A. S., et al. (2015). Interoception, contemplative practice, and health. Frontiers in Psychology, 6, 763. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2015.00763