Kami Belajar Bertahan dengan Sadar Cerita Oleh: Dyan dan Jerrie (Sepasang Suami-Istri dengan Bipolar)

Kami Belajar Bertahan dengan Sadar Cerita Oleh: Dyan dan Jerrie (Sepasang Suami-Istri dengan Bipolar)

Memutuskan menikah dengan Mas Jerrie adalah keputusan yang tepat untukku, juga untuk Mas Jerrie. Semua bermula sejak aku menyadari bahwa pertemuan ini terasa tidak biasa. Ada ketenangan yang berbeda darinya, bukan ketenangan yang dibuat-buat atau sekadar ingin terlihat dewasa, melainkan ketenangan seseorang yang sudah mengenal dirinya sendiri dan tidak lagi sibuk bersembunyi dari bayangannya. Selama hidup bersama, kami tidak merasa perlu memainkan peran agar terlihat ideal. Tidak ada tarik-ulur yang melelahkan, tidak ada drama yang sengaja dipelihara untuk memastikan perasaan. Kami merasa cocok, dan kecocokan itu tumbuh pelan-pelan dari ruang yang sadar, bukan dari euforia sesaat.

Kami sama-sama hidup dengan Bipolar disertai psikotik. Bagi orang lain, mungkin itu terdengar seperti dua badai yang saling berhadapan. Namun di antara kami, justru ada kemudahan yang jarang kami temukan sebelumnya. Kami tidak perlu menjelaskan panjang lebar ketika salah satu sedang tidak baik-baik saja. Ada bahasa yang langsung dimengerti tanpa banyak kata. Kami tahu seperti apa rasanya pikiran melaju terlalu cepat, atau sebaliknya tenggelam terlalu dalam. Kami juga tahu bahwa kondisi itu bukan identitas kami, melainkan bagian dari perjalanan yang harus dirawat bersama. Keluarga kami pun sudah cukup mengenal dinamika ini, sehingga pernikahan kami tidak dipenuhi ketakutan berlebihan, melainkan kesiapan untuk saling menopang.

Awal pernikahan membawa kami pada kenyataan yang tidak ringan. Selain proses adaptasi—aku belajar masuk ke lingkaran keluarga Mas Jerrie yang tentu punya ritme dan kebiasaan sendiri—kami juga menghadapi ujian kesehatan fisik. Mas Jerrie harus menjalani pemasangan empat ring dan operasi bypass karena penyakit jantung yang serius. Ada hari-hari ketika rumah terasa sunyi oleh kekhawatiran dan ada malam-malam ketika kami hanya bisa duduk berdua tanpa banyak bicara. Dalam fase itu, kami sadar bahwa cinta saja tidak cukup. Kami membutuhkan kesadaran yang terlatih.

Sejak awal menikah, kami memutuskan menjalani couple’s counseling dengan pendekatan mindfulness. Keputusan itu diambil bukan karena hubungan kami bermasalah, tetapi karena kami ingin merawatnya dengan sungguh-sungguh. Dalam sesi-sesi itu, kami belajar melihat konflik tanpa terburu-buru memberi label benar atau salah. Kami belajar mengenali kapan emosi sedang meninggi, kapan pikiran mulai bias, dan kapan tubuh sebenarnya sedang kelelahan. Sebab, kondisi bipolar memang bisa membuat konflik terasa lebih besar dari yang sebenarnya, tetapi mindfulness memberi kami ruang untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan menunda reaksi. Dari jeda itulah sering kali muncul kejernihan yang tidak kami temukan saat emosi masih mendominasi.

Dalam keseharian, kami terbiasa menyadari siapa yang sedang stabil dan siapa yang sedang rapuh. Ada momen ketika salah satu dari kami harus lebih banyak diam, sementara yang lain mencoba tetap rasional. Tidak selalu berjalan mulus, dan kami tetap membutuhkan waktu untuk saling melambatkan diri. Jika percakapan terasa buntu, kami tidak ragu meminta bantuan psikolog untuk menjembatani pikiran dan perasaan yang belum menemukan titik temu. Kami tidak melihat itu sebagai kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap hubungan.

Seiring waktu, cara kami mengekspresikan kemarahan pun berubah. Kami tetap bisa marah, tetapi tidak lagi dengan agresi. Nada suara tidak perlu meninggi untuk menyampaikan keberatan. Kami belajar berbicara dengan tegas tanpa melukai. Perbedaan sudut pandang tidak lagi kami anggap ancaman, melainkan peluang untuk melihat dari sisi yang tidak kami miliki. Rumah kami tidak bebas dari perdebatan, tetapi jarang sekali dipenuhi ledakan. Yang lebih sering justru pelukan—bisa berkali-kali dalam sehari—dan kebiasaan sederhana untuk saling mengapresiasi hal kecil, seperti mengucapkan:

“Makasih ya, sudah angkat jemuran.”
“Makasih ya, sudah ingetin minum obat.”
“Makasih ya, sudah bikinin teh hangat.”

Ucapan-ucapan itu mungkin terdengar sepele, tetapi di sanalah kehangatan keluarga dan cinta kami dirawat.

Sampai akhirnya, aku semakin rutin untuk belajar hidup berkesadaran. Hadirnya mindfulness membantu kami mengenali diri sendiri dengan lebih jujur juga lebih peka dan sadar dengan kondisi pergantian fase bipolar kami. Sekarang, ketika mulai terasa ada yang bergeser secara pola hidup maupun emosi,aku dan Mas Jerrie memilih memperlambat ritme. Kami juga memberi diri kami waktu untuk beristirahat, berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog jika diperlukan, dan menata ulang prioritas. Sampai akhirnya, tiga tahun terakhir ini kami bisa bertahan tanpa kambuh karena kami lebih peka dan sadar terhadap diri sendiri.

Hidup berkesadaran juga perlahan mengubah cara kami memandang penderitaan. Sekarang, kami tidak lagi melihat sakit sebagai hukuman, melainkan bagian dari pengalaman manusia yang sifatnya sementara. Ada hari ketika rasa tidak nyaman datang begitu kuat, tetapi kami mengingatkan satu sama lain bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar abadi. Kesadaran itu tidak menghapus rasa sakit, tetapi membuat kami tidak tenggelam di dalamnya. 

Selain menerapkan mindfulness untuk diri sendiri, kami juga aktif membagikan praktik mindfulness kepada komunitas pemerhati dan pengidap gangguan kesehatan mental di sekitar kami. Setiap Rabu, kami menyelenggarakan sesi Mindfulness gratis di kediaman kami, yaitu Taman Asmukita melalui komunitas bernama Mindfullife  Community. Di sana, kami membuka ruang bagi siapa saja untuk belajar latihan kesadaran, menemukan ketenangan, dan membangun koneksi dengan diri sendiri melalui berbagai ragam praktik mindfulness.

Dalam perjalanan hidup berkesadaran ini, MyndfulAct menjadi ruang belajar yang berarti bagi kami. Kelas-kelasnya, terutama aktivitas offline di Jogja seperti KEKH yang sering diadakan di Taman Asmukita—rumah kami sendiri—memberi kami banyak perspektif dan ragam praktik mindfulness yang bisa diterapkan dalam keseharian. Kami tidak hanya belajar teknik, tetapi juga bertumbuh bersama komunitas yang sefrekuensi, yang saling menguatkan tanpa menghakimi. Kami bertumbuh bersama orang-orang yang sefrekuensi, yang saling menguatkan tanpa menghakimi. Dari sana, praktik yang sebelumnya terasa personal menjadi lebih kolektif dan bermakna. Kami merasa tidak sendirian dalam proses ini. MyndfulAct bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang pulang alias tempat kami terus diingatkan untuk kembali pada napas, pada kesadaran, dan pada kemanusiaan kami yang utuh.

Kami sadar hubungan kami tidak sempurna dan mungkin tidak pernah akan sepenuhnya bebas dari ujian. Namun setiap hari kami memilih untuk tetap hadir satu sama lain dengan kesadaran yang terus dilatih. Kami belajar bahwa mencintai bukan tentang menghilangkan gelap, melainkan tentang duduk bersama di dalamnya tanpa saling meninggalkan.

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lihat cerita lainnya