Love Yourself Bukan Egois: Memahami Self-Love Secara Dewasa
Desember 24, 2025 2025-12-24 23:14Love Yourself Bukan Egois: Memahami Self-Love Secara Dewasa
Love Yourself Bukan Egois: Memahami Self-Love Secara Dewasa
Love yourself artinya apa, sebenarnya?
Banyak orang mendengar kalimat “love yourself” lalu langsung membayangkan sikap mementingkan diri sendiri, cuek pada orang lain, atau hidup seenaknya. Di titik ini, ada asumsi yang sering kita terima begitu saja: bahwa mencintai diri sendiri berarti menaruh diri di atas segalanya. Padahal, pemahaman itu terlalu dangkal—dan sering kali justru menyesatkan.
Love yourself artinya kemampuan untuk memperlakukan diri dengan hormat, jujur, dan bertanggung jawab. Bukan memanjakan ego, melainkan membangun relasi dewasa dengan diri sendiri. Kami melihat self-love bukan sebagai pelarian dari tanggung jawab, tetapi sebagai fondasi untuk menjalani hidup dengan lebih sadar.
Kalau kamu pernah merasa bersalah saat memilih diri sendiri, atau ragu antara “aku egois” dan “aku sedang menjaga diri”, artikel ini mengajak kamu berhenti sejenak—dan melihat self-love dari sudut yang lebih jernih.
Apa Arti Love Yourself dalam Konteks Dewasa?
Self-love yang dewasa tidak berbunyi, “aku berhak melakukan apa pun yang aku mau.” Ia justru berkata, “aku bertanggung jawab atas hidupku.”
Mencintai diri sendiri berarti:
- Mengakui kebutuhan emosional dan fisik tanpa menyangkalnya
- Mengambil keputusan yang mungkin tidak nyaman, tapi sehat dalam jangka panjang
- Berani berkata “tidak” tanpa harus memusuhi orang lain
Di sini, asumsi yang perlu diuji adalah anggapan bahwa cinta selalu harus menyenangkan. Dalam praktiknya, self-love sering kali terasa tegas, membumi, dan tidak romantis sama sekali.
Apakah Self-Love Itu Egois?
Pertanyaan ini muncul karena kita sering menyamakan self-love dengan self-indulgence. Padahal keduanya berbeda secara prinsip.
Self-Love ≠ Self-Indulgence
- Self-indulgence: mengikuti impuls sesaat demi kenyamanan jangka pendek, sering tanpa memikirkan konsekuensi.
- Self-love: memilih yang baik untuk dirimu, bahkan ketika itu menuntut disiplin dan tanggung jawab.
Seorang skeptis mungkin berkata, “Bukankah tetap saja fokusnya ke diri sendiri?” Ya—tetapi fokus bukan berarti mengorbankan orang lain. Justru, ketika kamu punya batas yang sehat dan kebutuhanmu terpenuhi, relasimu dengan orang lain menjadi lebih jujur dan seimbang.
Penelitian menunjukkan bahwa self-compassion yang sehat berkaitan dengan empati yang lebih tinggi dan relasi interpersonal yang lebih stabil, bukan sebaliknya (Neff, 2003).
Bentuk-Bentuk Self-Love yang Sehat
Self-love bukan konsep abstrak. Ia hidup dalam keputusan kecil sehari-hari.
1. Bertanggung Jawab pada Kondisi Emosionalmu
Kamu berhenti menyalahkan keadaan, orang lain, atau masa lalu atas apa yang kamu rasakan sekarang. Perasaanmu valid, tapi kamu juga bertanggung jawab untuk mengelolanya.
2. Menjaga Batas Tanpa Harus Menjadi Keras
Mengatakan “tidak” bukan tanda kebencian. Itu tanda kamu mengenal kapasitasmu. Self-love tidak menuntut kamu selalu tersedia untuk semua orang.
3. Memilih Proses, Bukan Jalan Pintas
Self-love kadang berarti tidur cukup, menunda kesenangan, atau menghadapi konflik yang selama ini kamu hindari. Ini bukan bentuk hukuman, melainkan komitmen pada versi dirimu yang lebih utuh.
4. Menghormati Diri Saat Gagal
Alih-alih mencaci diri, kamu belajar mengevaluasi dengan jujur. Riset menunjukkan bahwa self-compassion membantu resiliensi dan kesehatan mental jangka panjang (Breines & Chen, 2012).
Responsibility to Self: Inti dari Self-Love
Jika harus diringkas, inti self-love adalah tanggung jawab pada diri sendiri.
Bukan kebebasan tanpa arah, tetapi kesadaran bahwa hidupmu—emosimu, tubuhmu, pilihanmu—ada dalam genggamanmu.
Di sini kita perlu menantang satu bias umum: mengira bahwa bersikap keras pada diri sendiri itu produktif. Faktanya, pendekatan yang penuh kesadaran dan kasih justru lebih efektif untuk perubahan perilaku dan kesejahteraan psikologis (Gilbert & Procter, 2006).
Cara Self-Love Sehat yang Bisa Kamu Mulai Hari Ini
- Dengarkan tubuhmu sebelum memaksanya “kuat terus”
- Jujur pada diri sendiri tentang batas dan kapasitas
- Rawat rutinitas kecil yang konsisten, bukan perubahan ekstrem
- Refleksikan keputusanmu: ini untuk jangka pendek atau jangka panjang?
Self-love bukan tujuan akhir. Ia adalah praktik yang terus diuji, disesuaikan, dan diperdalam.
Mencintai Diri Bukan Soal Menang Sendiri
Mencintai diri sendiri bukan tentang menjadi pusat dunia. Ini tentang menjadi pusat tanggung jawab atas hidupmu sendiri. Saat kamu memahami love yourself artinya merawat, bukan memanjakan—kamu berhenti terjebak antara rasa bersalah dan pembenaran diri.
Di MyndfulAct, kami percaya bahwa self-love yang dewasa membuatmu lebih hadir, lebih jujur, dan lebih berani menjalani hidup apa adanya—tanpa harus mengorbankan dirimu, dan tanpa mengorbankan orang lain.
Jika kamu ingin mengeksplorasi praktik mindful living yang membumi dan realistis, kami mengajakmu melangkah bersama—pelan, sadar, dan bertanggung jawab pada diri sendiri.
Referensi
- Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101. https://doi.org/10.1080/15298860309032
- Breines, J. G., & Chen, S. (2012). Self-compassion increases self-improvement motivation. Personality and Social Psychology Bulletin, 38(9), 1133–1143. https://doi.org/10.1177/0146167212445599
- Gilbert, P., & Procter, S. (2006). Compassionate mind training for people with high shame and self-criticism. Clinical Psychology & Psychotherapy, 13(6), 353–379. https://doi.org/10.1002/cpp.507