[KEKH] Love and Death: Celebrating Valentine and Honoring Vulnerability

Rp0

Deskripsi

Judul Kegiatan:

Love and Death: Celebrating Valentine and Honoring Vulnerability

Garis Besar Acara:

Sharing session, meditasi, dan pemutaran film The Departure (2017)

Tanggal dan Jam Acara:

Sabtu, 14 Februari 2026 | Pukul 09.00 – 12.30 WIB

Pembicara:

  • Rev. Jotetsu Nemoto

Biksu Zen Rinzai, Kepala Vihara Daizen-ji, Gifu, Jepang

Pemeran film “The Departure”

  • Asta Dewanti

Certified TAT® Professional

  • Gelong Ugyen Pema Lundup

 

Lokasi Acara:

Jogja Village Inn, Yogyakarta

Fee:

Donasi seikhlasnya

 

Cinta dan kematian sering ditempatkan sebagai dua wilayah yang terpisah. Pada 14 Februari—hari yang kerap dirayakan sebagai Hari Valentine—cinta umumnya dirayakan sebagai sesuatu yang hangat, manis, dan menggembirakan. Sementara bahasan tentang kematian, bersama kehilangan dan duka, seringkali dihindari, disenyapkan, atau hanya dibicarakan ketika kehilangan sudah tak terelakkan. Padahal, dalam pengalaman hidup yang paling jujur, cinta dan kematian justru saling berdekatan. Cinta membuka kerentanan, dan kematian mengingatkan kita akan keterbatasan serta nilai dari setiap kehadiran.

Dalam ajaran Buddhisme, kondisi batin manusia yang bergulat dengan kehilangan, ketidakpastian, rasa tidak utuh, dan kelekatan dipahami sebagai dukkha—sebuah istilah yang sering diterjemahkan sebagai penderitaan, namun sesungguhnya merujuk pada spektrum pengalaman batin yang lebih luas. Dukkha mencakup rasa sakit yang nyata, kegelisahan halus, hingga ketidakpuasan eksistensial yang muncul karena hidup senantiasa berubah dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan. Dengan pemahaman ini, pengalaman rapuh manusia bukanlah penyimpangan, melainkan bagian alami dari kehidupan itu sendiri.

Di tengah kehidupan modern yang menuntut ketangguhan, produktivitas, dan stabilitas emosional, banyak individu belajar untuk tetap berfungsi sambil menyimpan dukkha mereka secara diam-diam. Duka yang belum selesai, kelelahan batin, rasa sepi, dan pertanyaan tentang makna hidup sering kali tidak memiliki ruang aman untuk diproses. Kerentanan pun kerap disalahartikan sebagai kelemahan personal, bukan sebagai pengalaman manusiawi yang universal.

Film dokumenter The Departure (2017) menghadirkan potret pendampingan manusia di wilayah dukkha tersebut. Melalui kisah Rev. Jotetsu Nemoto, seorang biksu Zen Rinzai di Jepang, film ini memperlihatkan bagaimana kehadiran yang jujur, relasi yang setara, dan kesediaan untuk menemani penderitaan tanpa tergesa-gesa memperbaiki, dapat menjadi penopang bagi mereka yang berada dalam keputusasaan. Film ini mengajak penonton untuk duduk bersama realitas, menyentuh dukkha dengan keberanian dan welas asih.

Dalam kegiatan “Love and Death: Celebrating Valentine and Honoring Vulnerability”, yang secara sadar diselenggarakan pada 14 Februari, Valentine dimaknai bukan semata sebagai perayaan romantis, melainkan sebagai momentum untuk menengok cinta secara lebih utuh—termasuk sisi rapuh, kehilangan, dan keterbatasan yang menyertainya. Kehadiran Asta Dewanti, praktisi kesehatan mental dan Certified TAT Professional, membawa perspektif pendampingan berbasis kesadaran tubuh dan emosi. Pengalaman Asta dalam membantu beragam jenis individu mengenali, merespons, dan berproses bersama dukkha mereka selama ini akan memberikan perspektif menarik dalam bahasan.

Sementara itu, kehadiran Ugyen Pema Lundup menghadirkan refleksi yang juga sangat personal dan kontekstual. Beberapa tahun silam, Ugyen berada dalam kondisi kesehatan kritis dan pernah diperkirakan tidak memiliki harapan hidup oleh tenaga medis. Pengalaman berada di ambang kematian tersebut menjadi perjumpaan langsung dengan dukkha pada tingkat yang paling nyata—membentuk ulang relasinya dengan tubuh, kehidupan, dan makna keberadaan. Kisah ini terasa semakin relevan mengingat perjalanan hidup Ugyen yang sebelumnya menjalani kehidupan sebagai “perumah tangga”, sebelum kemudian memilih jalan hidup sebagai seorang bhante dan menjalani laku spiritual di Indonesia. Peralihan ini mencerminkan proses pelepasan dan keberanian untuk hidup dengan kesadaran penuh di tengah ketidakkekalan.

Melalui pemutaran film bersama, sesi meditasi bersama, dan percakapan reflektif yang dipandu oleh Rev. Jotetsu Nemoto, Asta Dewanti, dan Ugyen Pema Lundup, kegiatan ini dirancang sebagai ruang untuk merayakan Hari Valentine dengan cara yang berbeda: bukan sekadar perayaan cinta romantis, melainkan penghormatan terhadap dukkha dan kerentanan manusia sebagai bagian dari cinta itu sendiri. Alih-alih menghindari penderitaan, peserta diajak untuk memandangnya sebagai pintu menuju kehadiran yang lebih jujur, relasi yang lebih manusiawi, dan cara hidup yang lebih berwelas kasih—baik terhadap diri sendiri maupun sesama.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama mengulas “[KEKH] Love and Death: Celebrating Valentine and Honoring Vulnerability”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *