Deskripsi
Judul Kegiatan:
Saat Tubuh, Dompet, dan Jiwa Sama-Sama Lelah
Sub-Judul:
(Sesi Mindfulness Spesial: Human Design × Ho’oponopono)
Tanggal dan Jam Acara:
Minggu, 26 Juli 2026, 18.30 – 21.00 WIB
Lokasi kumpul:
Taman Asmukita, Timoho, Yogyakarta. Google maps klik –> MAPS
Pembicara:
- Tsamara Fahrana
Human Design Coach
Fasilitator Meditasi, Journaling, dan Access Bars
- Noeryanto A. Dhipuro
Praktisi Mindfulness, Mental Self-Defense Guru
Dalam beberapa waktu terakhir, banyak orang merasakan hidup yang terasa makin sulit dan penuh penyesuaian. Harga kebutuhan sehari-hari perlahan naik, pekerjaan menuntut fleksibilitas yang lebih tinggi, dan banyak keluarga maupun pelaku usaha kecil sedang berusaha menjaga ritme hidup agar tetap berjalan. Di tengah kondisi ini, yang sering terasa bukan hanya lelah secara fisik, tetapi juga penuh secara mental—banyak pikiran, banyak kekhawatiran, dan sering kali sulit menemukan ruang untuk benar-benar berhenti sebentar.
Di Indonesia sendiri, situasi ekonomi sehari-hari memberi tekanan yang cukup nyata. Biaya hidup meningkat, daya beli terasa menurun, dan banyak orang di kelas menengah mulai lebih berhitung dalam pengeluaran. Pelaku usaha kecil juga sedang berada dalam fase adaptasi, mencoba menyeimbangkan antara menjaga bisnis tetap hidup dan menyesuaikan dengan kondisi pasar yang berubah-ubah. Banyak orang akhirnya hidup dalam mode “bertahan”.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari sesi offline MyndfulAct di Yogyakarta pada bulan Mei, yang menghadirkan dua biksu, Ugyen Pema Lundup dan Lopon Dorji, dengan tema “Badai Pasti Berlalu”. Dari sesi tersebut, salah satu temuan yang cukup kuat adalah bahwa banyak keresahan peserta berakar pada kekhawatiran terhadap masa depan—terutama terkait pekerjaan, kondisi ekonomi, dan situasi politik—yang kemudian mempengaruhi cara mereka membayangkan dan merencanakan hidup ke depan. Ada dorongan untuk tetap optimis, tetapi juga ada beban pikiran yang sulit dilepaskan.
Dalam konteks inilah sesi kali ini hadir, dengan menghadirkan Iyus Dharmawan dan Nadya Pratiwi, pasangan suami istri yang juga orang tua dari dua anak, serta sedang menjalani realitas yang sangat dekat dengan banyak orang: mengelola keluarga, membangun usaha, dan beradaptasi dengan dinamika ekonomi yang terus berubah.
Nadya membawa cerita dari keseharian membangun usaha kuliner Nasi Peda Pelangi—tentang naik turun bisnis, keputusan-keputusan kecil yang dipengaruhi kondisi ekonomi, serta cara bertahan di tengah ketidakpastian. Sementara Iyus membawa pendekatan melalui sound healing, yang membantu peserta kembali menyadari tubuh, napas, dan ketegangan yang sering tidak disadari dalam keseharian.
Melalui sesi ini, peserta diajak untuk tidak sekedar mencari jawaban, tetapi terlebih dahulu memberi ruang bagi diri untuk tenang. Ada ruang untuk mendengar, ruang untuk berbagi, dan ruang untuk kembali hadir melalui napas dan suara—agar dari ketenangan itu, cara memandang hidup ke depan bisa kembali lebih jernih dan tidak didorong oleh kekhawatiran semata.

Ulasan
Belum ada ulasan.